Keberadaan planet-planet asing di luar tata surya makin bnayak yang terungkap seiring pengembangan teknologi pengamatan benda-benda ruang angkasa. Tak berselang lama setelah astronom NASA dan Kanada mengklaim berhasil merekam planet asing untuk pertama kalinya secara langsung, para astronom Perancis melaporkan kandidat planet baru.
Anne-Maria Lagrange dan astronom lainnya dari Observatorium Grenoble, Perancis memperkirakan objek tersebut berukuran 7 kali massa Planet Jupiter. Citra inframerah yang dipamerkan memperlihatkan sebuah titik putih di antara berkas cahaya dekat bintang Beta Pictoris yang berada 70 tahun cahaya dari Bumi (1 tahun cahaya sebanding dengan 9,5 triliun kilometer). Rekaman tersebut diambil menggunakan teleskop raksasa di Observatorium Eropa Selatan (Very Large Telescope ESO).
Belum diketahui apakah objek tersebut merupakan planet atau bukan. Para astronom harus melakukan pengamatan dan pengukuran lebih lanjut untuk memastikannya. Namun, kemungkinannya besar karena berada di dalam cakram debu dan gas yang mengelilingi bintang Beta Pictoris.
Cakram debu di sekitar bintang tersebut telah lama diyakini mengandung planet sejak diamati pertama kali tahun 1994. Adanya planet itulah yang mungkin dapat menjelaskan mengapa cakram debu tersebut sering bergoyang.
"Secara umum, ini merupakan temuan yang menarik yang akan segera dikonfirmasi dalam beberapa minggu ke depan karena Beta Pictoris merupakan bintang terang yang terlihat selama musim dingin,"ujar Paus Kallas, astronom dari Universitas California Berkeley yang mengetuai tim astronom penemu planet Fomalhaut b, planet pertama yang berhasil direkam kamera.
Rabu, Mei 27
Satu Lagi Kandidat Planet Raksasa di Jagat Raya
Bumi Ternyata Punya Banyak Bulan
Sejarah terbentuknya bumi dipercaya berhubungan dengan tabrakan benda langit dan menyebabkan pecahan yang menjadi bulan. Sebuah model komputer menunjukkan, bulan mungkin bukan satu-satunya yang tersisa.
Jack J Lissauera dari NASA Ames Research Center dan John E Chambers dari Department of Terrestrial Magnetis, Carnegie Institution of Washington menyimpulkan, bulan lain yang disebut Trojans bisa jadi masih tersisa setelah terjadi tabrakan besar itu.
"Tabrakan melemparkan banyak materi ke orbit bumi dan beberapa dapat terjebak di wilayah Langrangian, lokasi dimana daya tarik antar dua planet saling menghilangkan satu dengan yang lain,
Lissauer mengatakan, tabrakan menempatkan Trojans atau bulan berukuran kecil di orbit bumi selama lebih dari 100 juta tahun.
Tapi simpangan gaya tarik planet lain mengganggu orbit bumi. Meskipun kecil, tapi wilayah Langrangian terganggu, sehingga Trojans masuk ke wilayah daya tarik planet. Pada akhirnya, Trojans bisa bergerak kemanapun atau hilang secara menyeluruh.
"Pengaruh dari planet lain memang sangat-sangat kecil. Tetapi mampu mengubah bentuk orbit dan kemudian mengubah efek daya tarik matahari dan membuat Trojans tidak stabil,” kata Lissauer.
Model yang serupa dibuat oleh Matija Cuk, ilmuwan di University of British Columbia di Kanada. Ia memperkirakan obyek lebih kecil, seukuran asteroid hanya berpuluh kilometer lebarnya bisa bertahan di posisi statisonernya. Dia memperkirakan obyek itu bertahan hingga miliaran tahun.
Namun dia memberi catatan benda ini akan terlihat seperti Yupiter atau Venus di angkasa dibandingkan seperti satelit. Obyek seperti ini bisa sangat terang seperti bintang
inilah.com
Empat Planet Dukung Adanya Kehidupan
Kehidupan dan dunia yang mendukung kehidupan di luar bumi adalah dua misteri yang dihadapi ilmu pengetahuan pada saat ini. Banyak ilmuwan yang mendedikasikan ilmunya di bidang ini, tapi belum ada jawaban definitif.
Jan Hendrik Bredehoft dari Universitas Terbuka Inggris mengajukan teori dunia yang mendukung kehidupan ada empat macam. Masing-masing bisa menjadi tempat tinggal organisme luar angkasa.
Dunia yang mendukung kehidupan adalah berupa planet seperti bumi, Mars, Eropa atau dunia air.
Keempat kondisi itu memiliki potensi menjadi tempat kehidupan komplek. Dunia yang mirip bumi, tidak diperdebatkan karena sudah jelas mendukung kehidupan. Dunia mirip bumi memiliki karakteristik atmosfer yang mendukung, terdapat air, temperatur yang tidak terlalu panas dan iklim yang stabil.
Bentuk pendukung kehidupan kedua adalah seperti Mars dan Venus. Tapi Mars terlalu kering dan hanya sangat sedikit memiliki air. Sedangkan Venus juga terlalu panas akibat efek rumah kaca.
Tapi, Bredehoft yakin ada kemungkinan kehidupan di wilayah seperti itu. Alasannya orgasnime dapat berkembang di planet yang makin ramah, dan kehiduapan dapat bertahan bahkan di kondisi yang sulit.
"Sekali kehidupan muncul akan sulit dimatikan. Hal itu biasa ditemui di bumi yang memunculkan berbagai macam kehidupan dan malah memperbanyak keanekaragaman hayati dan bukananya malah menghilangkannya," kata Bredehoft.
Planet yang memiliki cairan, tapi ada di bawah lapisan es dan bukannya dipermukaan, menjadi kelas ketiga dunia yang mungkin memiliki kehidupan. Tetangga kosmik kita, Eropa yang merupakan bulan dari Jupiter, adalah contohnya.
Tipe keempat planet yang berpenghuni adalah hampir semuanya di penuhi air. Dunia hipotesa ini bisa berwujud Merkurius. Beda dengan lautan di bumi, air di planet seperti ini tidak berhubungan dengan silika atau batuan lain
inilah.com
Sabtu, Maret 14
Black Hole
Para astronom meyakini sebagian besar (mungkin 90% atau lebih) materi di alam semesta tidak terdeteksi dengan teleskop besar sekalipun. Itulah yang dinamakan dark matter (materi gelap). Mereka tidak tampak, walaupun diyakini keberadaanya secara tidak langsung.
Salah satu kelompok matarei gelap itu adalah black hole. Black hole diyakini ada di pusat galaksi. Black hole itu super amat sangat padatnya, hingga gravitasinya luar biasa besarnya. Cahaya pun tertarik oleh medan gravitasinya. Bila ada bintang yang berdekatan dengannya, materinya akan tersedot oleh black hole.
Black hole bisa terbentuk dari inti bintang raksasa yang meledak sebagai supernova. Bagian luarnya tampak hancur berhamburan ke luar, tetapi intinya memadat ke dalam. Kepadatan black hole dapat diumpamakan bila bola matahari yang berdiameter 1,4 juta km (109 kali diameter bumi) dan bermassa 2 milyar milyar milyar (dengan 27 angka nol) ton dimampatkan hingga diameternya hanya 3 km.
Rabu, Januari 21
Sebuah Planet Asing Dekati Kiamat
Sebuah planet asing yang baru ditemukan sangat istimewa karena mengorbit bintang yang tengah sekarat. Planet semacam ini dicari-cari karena dapat membantu para astronom mempelajari proses hancurnya planet. Hal tersebut akan membuka pengetahuan baru mengenai proses terjadinya kiamat di tata surya.
Planet asing tersebut jenis palnet gas dan berukuran enam kali Planet Jupiter. Ia mengorbit bintang raksasa merah bernama HD 102272 yang berada di rasi bintang
Leo, 1200 tahun cahaya dari Bumi (1 tahun cahaya setara dengan 9,5 triliun kilometer). Di bintang ini sebelumnya pernah ditemukan planet lain namun dengan jarak orbit lebih jauh.
Bintang-bintang berukuran kecil dan sedang seperti Matahari diyakini akan berangsur-angsur berubah menjadi bintang raksasa merah seiring berkurangnya emisi energi nuklir yang dilepaskannya. Begitu hidrogennya habis dilepaskan, inti bintang akan mengembang lalu mulai membakar helium. Bagian permukannya akan menggembung hingga 100 kali ukuran aslinya. Saat Matahari berubah sebesar itu, Bumi dan sejumlah planet mungkin telah hancur.
"Saat bintang-bintang raksasa merah mengembang, mereka akan melahap planet-planet terdekat," ujar Alexander Wolszczan, seorang pakar astrofisika dari Pennsylvania State University yang merekam planet baru itu dengan Hobby-Eberly Telescope di Observatorium McDonals, Texas, AS. Ia dan timnya menggunakan teknik pemantauan gejolak cahaya saat planet melakukan transit atau melintas di depan bintangnya.
Planet yang baru ditemukan hanya berjarak 0,6 AU (1 astronomical unit setara dengan jarak Matahari-Bumi). Ini merupakan jarak terdekat sebuah planet dengan bintang raksasa merah yang pernah terekam sejauh ini. Bintangnya sendiri baru 10 kali lipat ukuran Matahari dan akan terus mengembang hingga 100 kali lipat.
"Planet itu sendiri mengorbit bukan di ruang hampa melainkan gas yang dihembuskan akibat gejolak bintang. Jadi, energi untuk mengorbit terganggu gesekan atmosfernya dengan gas dan akhirnya mulai limbung bergerak spiral," jelas Wolszczan. Bagaimana akhir cerita planet tersebut, Wolszczan mengatakan mungkin belum akan terjadi dalam 100 juta tahun ke depan. Matahari sendiri membutuhkan waktu 5 miliar tahun untuk berubah menjadi bintang raksasa merah.
space.com
Debu Intan Buktikan Komet Hantam Bumi 12.900 Tahun Silam
Tanah yang kaya dengan intan yang ditemukan di Amerika Utara mengukuhkan teori bahwa berbagai meteor yang jatuh menyebabkan kepunahan hewan raksasa purba dan satwa lainnya, demikian menurut pengkajian yang disiarkan jurnal Science.
"Berbagai penemuan ini memberikan bukti kuat bagi peristiwa kosmik pada sekitar 12.900 tahun silam yang menimbulkan dampak luar biasa pada tanaman, hewan dan manusia di kawasan
Amerika Utara," kata Douglas Kenneth dari Universitas Oregon yang memimpin riset itu kepada AFP.
Penemuan itu nampaknya mendukung teori yang disampaikan pada 2007 bahwa beberapa komet yang menghantam Bumi memicu jaman es pada 1.300 tahun lalu, sehingga menyebabkan punahnya beberapa spesies hewan dan hancurnya budaya masyarakat Clovis pra-sejarah.
Orang Clovis hidup dari berburu dan berkumpul di kawasan yang kini adalah Amerika Serikat, Meksiko dan Amerika Tengah.
Puncak kejayaan manusia Clovis berlangsung pada 13.200 sampai 12.900 tahun sialm dan para ilmuwan menyatakan orang Clovis masuk ke Amerika Utara melalui "jembatan darat" dari Siberia.
Salah satu dari lapisan endapan kaya intan ditemukan para peneliti berada langsung di atas berbagai material Clovis pada situs di Murray Springs, Arizona, kata para peneliti.
Intan-intan berukuran nanometer itu dihasilkan pada suhu tinggi dan tekanan tinggi dari dampak kosmik yang telah ditemukan pada berbagai meteorit.
Lapisan yang penuh dengan debu intan juga ditemukan dalam penggalian pada lima situs lainnya, yakni Bull Creek, Oklahoma; Gainey, Michigan; dan Topper, South Carolina in Amerika Serikat dan Lake Hind, Manitoba; serta Chobot, Alberta di Kanada.
Intan-intan berukuran nano dapat dihasilkan di Bumi, namun hanya sebagai hasil ledakan dengan daya ledak tinggi dan penguapan kimia.
Senin, Desember 22
Membaca Rahasia di Perut Bumi
Bumi selalu dianggap berbentuk bulat dan mempunyai gravitasi yang sama di seluruh permukaannya. Kenyataannya tidak begitu. Karena massa di perut bumi memiliki kerapatan yang heterogen, maka terjadilah penyimpangan gaya gravitasi. Anomali itulah yang justru dicari para memburu minyak bumi dan para penambang.
Untuk menggambarkan bentuk bumi, ada beberapa model yang dipakai, di antaranya dipilih bentuk
ellipsoida dan digunakan asumsi bahwa densitas (kerapatan) bumi homogen. Padahal, kenyataannya, kerapatan massa bumi itu heterogen yang juga diliputi air, batuan leleh, minyak, dan gas. Di permukaan bumi ada gunung-gunung yang memendam magma, sebagiannya ditutupi lautan, dan di bawahnya bersembunyi cekungan minyak. Daerah-daerah tersebut gaya beratnya lebih rendah dibandingkan dengan permukaan atau lapisan bumi yang padat dan rapat.
Dengan ditemukannya kondisi itu, bentuk ellipsoid bumi yang ideal tadi memiliki jarak dengan bentuk geoid, yaitu model bumi yang mendekati bentuk bumi sesungguhnya. Secara praktis geoid dianggap berimpit dengan permukaan laut rata-rata pada saat keadaannya tenang dan tanpa gangguan cuaca.
Jarak geoid terhadap ellipsoid itu—yang disebut undulasi geoid—jelas tidak sama di semua tempat, karena ketidakseragaman sebaran densitas massa bumi itu. ”Beda tinggi antara ellipsoid dan tinggi geoid sangatlah bervariasi dan besarnya bisa mencapai puluhan meter,” urai Joenil Kahar, pakar Geodesi Institut Teknologi Bandung (ITB).
Pengukuran ”geoid”
Peta geoid dibuat berdasarkan pengukuran gaya berat bumi di setiap tempat menggunakan alat ukur yang disebut dengan gravimeter. Pengukuran itu dilakukan dengan mengacu pada jejaring berupa garis-garis sejajar dengan kerapatan tertentu, yang direncanakan di atas peta.
”Bagi kegiatan survei pemetaan, geoid digunakan untuk acuan tinggi rupa bumi atau topografi,” kata Jacub Rais, pakar geomatika yang juga guru besar emeritus di ITB.
Untuk keperluan aplikasi geodesi, geofisika, dan oseanografi dibutuhkan juga geoid dengan ketelitian yang tinggi. Hal ini dapat dilakukan dengan memadukan sistem global positioning system (GPS) yang dapat mengukur ketinggian permukaan bumi di mana pun dan kapan pun, serta tidak tergantung cuaca di seluruh permukaan bumi.
Dalam bidang geodesi, informasi geoid yang teliti ini dipadukan dengan sistem GPS dalam penentuan tinggi ortometrik digunakan untuk berbagai keperluan praktis, seperti pembangunan infrastruktur bangunan, bendungan, dan saluran irigasi.
Teknik pengukuran aerial gravitasi adalah menempatkan alat gravimeter di pesawat terbang yang mengudara dengan kecepatan, tinggi, dan arah tertentu, banyak digunakan setelah era GPS, karena memberi akurasi posisi yang sangat teliti.
Adapun teknik pengukuran dari antariksa dengan menempatkan sensor gravitasi pada satelit, baru diterapkan pada era milenium ini dengan diluncurkannya satelit gravitasi, seperti Champ, Grace, dan Goce.
Data gravitasi ini diaplikasikan antara lain untuk pencarian sumber daya alam, seperti mineral, hidrokarbon, gas, geotermal, dan hidrologi. Selain itu, juga untuk mengetahui deliniasi struktur bumi yang berhubungan dengan bencana alam, seperti patahan, tanah longsor, dan gunung api.
Informasi geoid yang dibuat dari data gaya berat diperlukan untuk penerapan sistem tinggi dengan teknik satelit, seperti GPS, Galileo, dan Glossnas, serta unifikasi sistem tinggi untuk pemetaan serta menunjang penelitian kenaikan paras muka laut dan sirkulasi arus laut.
Di Indonesia
Pengukuran gaya berat di Indonesia, ujar Kepala Badan Koordinasi Survei dan Pemetaan Nasional, Rudolf W Matindas, telah lama dilakukan oleh perusahaan minyak di Jawa dan Sumatera. Namun, cakupannya tergolong sempit. Data itu selama ini dirahasiakan perusahaan itu karena dapat mengungkap kondisi lapisan permukaan bumi yang memiliki cekungan minyak. Sementara itu, di luar Pulau Jawa dan Sumatera boleh dibilang hingga kini minim data gaya berat, bahkan Papua masih tergolong blank area.
Penyediaan data gaya berat secara nasional untuk keperluan pembangunan di daerah dilakukan Bakosurtanal dengan menggandeng Denmark Technical University.
Untuk mempercepat survei gravitasi ini dipilih wahana pesawat terbang, yang menurut Koordinator Survey Airborne Gravity Indonesia (SAGI) 2008, Fientje Kasenda, memiliki beberapa keunggulan dibandingkan dengan survei di darat atau teresterial dan satelit. Dengan pesawat terbang jangkauan lebih luas dan cepat untuk medan yang berat, seperti hutan, pegunungan, dan perairan dangkal hingga pesisir. Selain itu juga memberikan kesinambungan data antara laut dan darat. Resolusi data lebih baik dibandingkan dengan satelit. Biaya yang dikeluarkan pun relatif lebih murah.
Dalam program Bakosurtanal, tutur Matindas, SAGI tahap pertama dilakukan di seluruh Sulawesi, sebagai daerah yang memiliki topografi yang kompleks. Diharapkan survei gaya berat dan pembuatan peta seluruh Indonesia dapat diselesaikan pada tahun 2012.
Selasa, November 25
Bumi Terlahir Ungu
ada awal terbentuknya kehidupan kehidupan, kondisi di muka Bumi mungkin tak sehijau sekarang, tapi lebih banyak dihiasi warna ungu. Mikroorganisme purba yang telah menghuni saat itu diperkirakan tidak memanfaatkan klorofil, namun sebuah molekul yang memantulkan gelombang cahaya berwarna ungu.
Klorofil, yang merupakan pigmen utama tumbuhan yang dipakai selama proses fotosintesis saat ini, menyerap gelombang cahaya biru dan merah dari Matahari dan memantulkan gelombang cahaya hijau. Itulah mengapa daun-daunan
Pyang menjadi tempat terjadinya fotosintesis kelihatan berwarna hijau.
Meski telah lama dipelajari, fakta ini masih membuat para pakar biologi penasaran. Sebab, Matahari memancarkan sebagian besar energinya dalam bentuk cahaya hijau. "Mengapa klorofil mengesampingkan bagian yang paling banyak energinya?" kata Shil DasSarma, seorang ahli genetika mikroba di Universitas Maryland, AS.
Padahal karena gelombang cahaya hijau dari Matahari memancar yang paling kuat, mata manusia secara evolusi menjadi paling sensitif terhadap cahaya berwarna hijau. Inilah salah satu alasan mengapa citra bayangan yang dikembangkan pada teknologi teropong malam dibuat berwarna hijau. Lalu, mengapa fotosintesis tidak memanfaatkan sumber energi yang paling besar ini?
Kompetisi
DasSarma memprediksi, hal tersebut disebabkan klorofil muncul belakangan setelah retinal. Molekul retinal yang juga sensitif terhadap cahaya ini muncul sejak awal terbentuknya Bumi dan masih ditemukan pada halobakteri, jenis mikroorganisme yang juga melakukan fotosintesis. Membran tubuhnya yang mengandung retinal akan menyerap cahaya hijau dan memantulkan cahaya merah dan ungu sehingga tubuh bakteri tampak ungu kemerahan.
Mikroorganisme primitif yang memiliki retinal untuk menyerap energi Matahari mungkin mendominasi Bumi saat masa pembentukan awal kehidupan. Jika prediksi ini benar, bisa dibayangkan bahwa Bumi akan terlihat berwarna ungu dan tidak hijau kebiruan seperti saat ini.
"Klorofil terdesak untuk menggunakan cahaya merah dan biru karena cahaya hijau telah diserap organisme yang memiliki membran ungu ini," kata William Sparks, seorang astronom di Space Telescope Science institute (STScI) di Maryland, yang turut membantu Das Sarma mengembangkan hipotesis ini. Mereka berpendapat organisme yang mengandung klorofil kemudian berbagi lingkungan dengan retinal.
Namun, setelah sekian lama, jumlah organisme yang mengandung klorofil semakin mendominasi seiring kecenderungan kompetisi. Sebab, klorofil mungkin lebih efisien daripada retinal. "Klorofil boleh jadi tidak mengambil puncak spektrum cahaya, namun ia memanfaatkan cahaya yang diserapnya sebaik mungkin," ungkap DasSarma.
Ia mengakui bahwa pendapat-pendapatnya tersebut masih bersifat spekulasi, namun masih sesuai dengan pendapat ilmuwan lainnya mengenai retinal dan awal kehidupan di Bumi. Misalnya, struktur retinal jauh lebih sederhana daripada klorofil dan mudah terbentuk di lingkungan yang kadar oksigennya rendah. Proses pembentukan retinal mirip pembentukan asam lemak yang menurut para ilmuwan menjadi materi utama terbentuknya sel hidup.
Halobakteri juga bukan termasuk jenis bakteri murni sehingga dikelompokkan dalam kelompok archaea yang jalur keturunannya dapat ditarik ke mikroorganisme primitif yang mungkin hidup di masa sebelum ada oksigen di atmosfer Bumi. Bukti-bukti ini menguatkan pendapat bahwa retinal terbentuk sebelum klorofil.
Meski masih harus dibuktikan kebenarannya, hipotesis ini dapat dipertimbangkan untuk membantu pencarian tanda-tanda kehidupan di planet lain. Dalam bidang astrobiologi, para ahlinya telah tertarik mempelajari ’bingkai merah’ yang terbentuk di sebagian tumbuh-tumbuhan. Cahaya merah memang diserap tapi tidak semuanya karena masih ada pula yang dipantulkan. Para ilmuwan telah mengusulkan untuk mencari tanda-tanda kehidupan dengan melihat pantulan cahaya merah pada frekuensi tertentu.
"Saya kira saat orang melakukan penginderaan jauh, mereka fokus mencari bukti kehidupan dari tanda-tanda klorofil. Jika ditemukan hal tersebut memang sangat berarti, namun jika mencari ke planet lain yang tengah berada pada tahap awal evolusi dan Anda mencari klorofil, Anda mungkin tidak akan menemukannya karena berada di gelombang yang salah," ungkap DasSarma. Hipotesis yang disebut ’Bumi ungu’ ini dipresentasikan dalam peremuan tahunan Masayrakat Astronomi Amerika (AAS). Para penelitinya berencana mengirimkannya ke jurnal ilmiah tahun ini.
Sumber: LiveScience.com, kompas.com
SEDNA PLANET KESEPULUH TATASURYA??
Benda langit yang ditemukan beberapa waktu lalu barangkali merupakan planet ke-10 di tata surya kita. Para ilmuwan sedang mempertimbangkan untuk menyebut Sedna --nama yang diambil dari Dewi Samudra bangsa Inuit untuk benda langit tersebut-- sebagai planet baru.
Pengamatan menggunakan teleskop ruang angkasa Spitzer yang baru diluncurkan, menemukan bahwa Sedna memiliki lebar penampang sekitar 2.000 kilometer, bahkan barangkali bisa lebih besar dibanding Pluto yang penampangnya 2.250 kilometer.
Karena ukuran dan orbitnya, beberapa astronom memperdebatkan apakah Sedna bisa digolongkan sebagai planet atau bukan. Bila Sedna akhirnya dianggap planet, maka pengertian mengenai tata surya kita akan didefinisikan kembali.
Benda angkasa berselimut es
Sedna adalah benda angkasa terbesar yang ditemukan mengelilingi Matahari, sejak para astronom menemukan Pluto tahun 1930. Ukuran batu berlapis es ini masih belum diketahui dengan pasti, namun ada dugaan ia sedikit lebih besar dari Pluto.
Hal yang unik berkaitan dengannya adalah mengapa benda langit sebesar itu baru ditemukan saat ini. Sedna sendiri ditemukan dalam suatu survey yang dipimpin Dr Michael Brown dari California Institute of Technology, 14 November 2003lalu. Mulanya ia disebut 2003 VB12 sebelum mendapat nama Sedna.
Perhitungan awal menduga benda langit itu berada antara 7,5 milyar hingga 10 milyar kilometer dari Bumi, di wilayah antariksa yang dikenal sebagai Sabuk Kuiper atau Kuiper Belt (KB).
KB berisi ratusan objek dan para astronom yakin masih banyak benda angkasa yang belum diketahui di sana. Kebanyakan anggota KB adalah batu-batu berlapis es kecil, namun beberapa di antaranya --seperti Sedna-- bisa sebesar atau lebih besar dari Pluto.
Planet atau bukan?
Pentingnya Sedna sehingga diusulkan sebagai planet adalah karena ia benda langit yang memiliki orbit normal. Objek sejenis seperti Quaoar dan Varuna yang juga berada di KB, diketahui tidak memiliki orbit normal, dan sering berpindah.
Nah, untuk menentukan apakah orbit Sedna benar-benar stabil, maka para astronom di Observatorium Tenagra di Arizona telah diminta untuk meneliti jalur Sedna. Hasilnya nanti akan bisa dipakai untuk menentukan apakah benda langit itu bisa digolongkan sebagai planet.
Sebelumnya, Sedna dinyatakan sebagai Plutino, atau objek-objek angkasa yang orbitnya terkait dengan jalur Pluto saat mengelilingi Matahari. Sekelompok astronom bahkan masih menganggap Pluto sendiri bukan sebuah planet namun hanya salah satu benda langit besar di tepian tata surya.
Apakah Sedna kelak akan digolongkan sebagai planet? Apakah hal itu kemudian akan membuat definisi tata surya kita berubah? Baiklah kita menunggunya dengan sabar. (BBC/wsn)
http://www.gps.caltech.edu/%7Embrown/sedna/sedna-orbits.jpg
http://www.gps.caltech.edu/~mbrown/sedna/sedna-comp.jpg
http://www.gps.caltech.edu/~mbrown/sedna/sedna-skychart.jpg
