Senin, Desember 22

Situs Dibobol, Antihackerlink Kirim Pesan Damai

Jakarta - Situs kelompok bawah tanah dunia maya Indonesia yang cukup terkemuka, Antihackerlink jadi korban aksi deface. Namun mereka menjanjikan tak akan ada aksi balasan.

"Tak semua kekerasan harus dilawan dengan kekerasan," ;) tutur Sakit Jiwa, salah satu dedengkot komunitas

tersebut dalam e-mail yang diterima detikINET,

Menurut pihak Antihackerlink, aksi itu dilakukan oleh kelompok bernama Cyber Mafia. "Situs memang sengaja belum kami betulkan, karena kami sedang melakukan forensic white box, dan kami tidak berniat melakukan serangan balasan," tulisnya.

Di blognya, fl3xu5 selaku webmaster Antihackerlink.or.id mengaku banyak tools yang bisa dimanfaatkan Antihackerlink dari serangan tersebut. "Sebagai admin yang baik, kita harus menerima jika situs kita kena hack, jangan melakukan serangan balasan, karena itu bukan merupakan solusi yang baik," pesan fl3xu5 di blog-nya.

Menurut fl3xu5, serangan itu bisa menjadi audit gratisan bagi keamanan situs mereka. "Terima kasih kepada penyerang, karena di-'audit' dengan gratis, daripada kami menyewa 'auditor profesional' yang fee-nya bisa puluhan juta rupiah," tulis sang webmaster.

detiknet.com

Read More......

Membaca Rahasia di Perut Bumi

Bumi selalu dianggap berbentuk bulat dan mempunyai gravitasi yang sama di seluruh permukaannya. Kenyataannya tidak begitu. Karena massa di perut bumi memiliki kerapatan yang heterogen, maka terjadilah penyimpangan gaya gravitasi. Anomali itulah yang justru dicari para memburu minyak bumi dan para penambang.

Untuk menggambarkan bentuk bumi, ada beberapa model yang dipakai, di antaranya dipilih bentuk

ellipsoida dan digunakan asumsi bahwa densitas (kerapatan) bumi homogen. Padahal, kenyataannya, kerapatan massa bumi itu heterogen yang juga diliputi air, batuan leleh, minyak, dan gas. Di permukaan bumi ada gunung-gunung yang memendam magma, sebagiannya ditutupi lautan, dan di bawahnya bersembunyi cekungan minyak. Daerah-daerah tersebut gaya beratnya lebih rendah dibandingkan dengan permukaan atau lapisan bumi yang padat dan rapat.

Dengan ditemukannya kondisi itu, bentuk ellipsoid bumi yang ideal tadi memiliki jarak dengan bentuk geoid, yaitu model bumi yang mendekati bentuk bumi sesungguhnya. Secara praktis geoid dianggap berimpit dengan permukaan laut rata-rata pada saat keadaannya tenang dan tanpa gangguan cuaca.

Jarak geoid terhadap ellipsoid itu—yang disebut undulasi geoid—jelas tidak sama di semua tempat, karena ketidakseragaman sebaran densitas massa bumi itu. ”Beda tinggi antara ellipsoid dan tinggi geoid sangatlah bervariasi dan besarnya bisa mencapai puluhan meter,” urai Joenil Kahar, pakar Geodesi Institut Teknologi Bandung (ITB).

Pengukuran ”geoid”

Peta geoid dibuat berdasarkan pengukuran gaya berat bumi di setiap tempat menggunakan alat ukur yang disebut dengan gravimeter. Pengukuran itu dilakukan dengan mengacu pada jejaring berupa garis-garis sejajar dengan kerapatan tertentu, yang direncanakan di atas peta.

”Bagi kegiatan survei pemetaan, geoid digunakan untuk acuan tinggi rupa bumi atau topografi,” kata Jacub Rais, pakar geomatika yang juga guru besar emeritus di ITB.

Untuk keperluan aplikasi geodesi, geofisika, dan oseanografi dibutuhkan juga geoid dengan ketelitian yang tinggi. Hal ini dapat dilakukan dengan memadukan sistem global positioning system (GPS) yang dapat mengukur ketinggian permukaan bumi di mana pun dan kapan pun, serta tidak tergantung cuaca di seluruh permukaan bumi.

Dalam bidang geodesi, informasi geoid yang teliti ini dipadukan dengan sistem GPS dalam penentuan tinggi ortometrik digunakan untuk berbagai keperluan praktis, seperti pembangunan infrastruktur bangunan, bendungan, dan saluran irigasi.

Teknik pengukuran aerial gravitasi adalah menempatkan alat gravimeter di pesawat terbang yang mengudara dengan kecepatan, tinggi, dan arah tertentu, banyak digunakan setelah era GPS, karena memberi akurasi posisi yang sangat teliti.

Adapun teknik pengukuran dari antariksa dengan menempatkan sensor gravitasi pada satelit, baru diterapkan pada era milenium ini dengan diluncurkannya satelit gravitasi, seperti Champ, Grace, dan Goce.

Data gravitasi ini diaplikasikan antara lain untuk pencarian sumber daya alam, seperti mineral, hidrokarbon, gas, geotermal, dan hidrologi. Selain itu, juga untuk mengetahui deliniasi struktur bumi yang berhubungan dengan bencana alam, seperti patahan, tanah longsor, dan gunung api.

Informasi geoid yang dibuat dari data gaya berat diperlukan untuk penerapan sistem tinggi dengan teknik satelit, seperti GPS, Galileo, dan Glossnas, serta unifikasi sistem tinggi untuk pemetaan serta menunjang penelitian kenaikan paras muka laut dan sirkulasi arus laut.

Di Indonesia

Pengukuran gaya berat di Indonesia, ujar Kepala Badan Koordinasi Survei dan Pemetaan Nasional, Rudolf W Matindas, telah lama dilakukan oleh perusahaan minyak di Jawa dan Sumatera. Namun, cakupannya tergolong sempit. Data itu selama ini dirahasiakan perusahaan itu karena dapat mengungkap kondisi lapisan permukaan bumi yang memiliki cekungan minyak. Sementara itu, di luar Pulau Jawa dan Sumatera boleh dibilang hingga kini minim data gaya berat, bahkan Papua masih tergolong blank area.

Penyediaan data gaya berat secara nasional untuk keperluan pembangunan di daerah dilakukan Bakosurtanal dengan menggandeng Denmark Technical University.

Untuk mempercepat survei gravitasi ini dipilih wahana pesawat terbang, yang menurut Koordinator Survey Airborne Gravity Indonesia (SAGI) 2008, Fientje Kasenda, memiliki beberapa keunggulan dibandingkan dengan survei di darat atau teresterial dan satelit. Dengan pesawat terbang jangkauan lebih luas dan cepat untuk medan yang berat, seperti hutan, pegunungan, dan perairan dangkal hingga pesisir. Selain itu juga memberikan kesinambungan data antara laut dan darat. Resolusi data lebih baik dibandingkan dengan satelit. Biaya yang dikeluarkan pun relatif lebih murah.

Dalam program Bakosurtanal, tutur Matindas, SAGI tahap pertama dilakukan di seluruh Sulawesi, sebagai daerah yang memiliki topografi yang kompleks. Diharapkan survei gaya berat dan pembuatan peta seluruh Indonesia dapat diselesaikan pada tahun 2012.

Read More......

Rabu, Desember 3

Ditemukan Bilangan Prima 13 Juta Digit

Los Angeles - Sekelompok pakar matematika dari Universitas Los Angeles California (UCLA) berhasil menemukan bilangan prima terbaru. Bilangan itu terdiri dari 13 juta digit. Keberhasilan itu memberi mereka peluang mendapatkan hadiah 100.000 dolar AS (Rp 938 juta) yang disediakan Electronic Frontier Foundation. Namun hadiah itu baru akan diberikan setelah angka temuan baru itu diumumkan secara resmi tahun depan.



Kelompok itu menemukan bilangan prima Marsenne ke-46 bulan lalu dalam sebuah jejaring 75 komputer yang menggunakan Windows XP. Angka temuan baru itu telah diverifikasi oleh komputer lain yang menggunakan sistem berbeda.

“Kami senang sekali,” kata Edson Smith, ketua tim dari UCLA itu. “Sekarang kami akan mencari bilangan prima yang berikutnya, meski sulit.”
Bagi UCLA, keberhasilan tim itu merupakan yang kedelapan.
Bilangan prima, seperti tiga, tujuh, dan 11, merupakan bilangan yang hanya bisa dibagi oleh 1 dan bilangan itu sendiri.

Sementara bilangan prima Mersenne, dinamai seperti penemunya Marin Mersenne, dirumuskan dengan 2P-1 (2 dikalikan bilangan prima dikurangi 1). Dalam bilangan prima temuan baru itu, P sama dengan 43.112.609.
Ribuan orang dari seluruh dunia berpartisipasi dalam kompetisi Great Internet Mersenne Prime Search. cnn/kis

Read More......

Selasa, Desember 2

PlaNet Bharuwww.....

Para ahli astronomi melaporkan ditemukannya planet yang mungkin paling mirip bumi di sekitar tata surya. Planet itu lebih besar daripada bumi, tetapi para ilmuwan mengatakan, teknik mereka cukup canggih untuk mengidentifikasi lebih banyak planet yang besarnya hampir sama dengan bumi.

Sejak pertengahan tahun 1990an, para ahli astronomi telah menemukan lebih dari 170 planet yang mengorbit bintang-bintang di luar tata surya kita. Tetapi

planet terbaru yang ditemukan di pusat bimasakti kita ini berbeda, dan membuat para pakar yakin bahwa mungkin banyak bumi lain di luar sana.

Sebegitu jauh, sebagian besar planet yang ditemukan di sekitar bintang yang normal adalah planet raksasa berisi gas seperti Saturnus dan Jupiter, beberapa planet sebesar bumi yang diduga berbatu-batu telah ditemukan, tetapi mereka mengorbit bintang-bintang mati yang disebut bintang neutron. Sebegitu jauh, hanya satu planet berbatu yang ditemukan mengorbit bintang biasa, tetapi besarnya tujuh setengah kali lebih besar daripada bumi. Dan lagi, semua planet yang ditemukan belum lama ini letaknya terlalu dekat dengan bintang untuk dapat dihuni kehidupan.
http://www.voanews.com/indonesian/images/NASA_space_artist_rendition_210.jpg

Planet terbaru yang diidentifikasi di luar tata surya kita itu lebih mirip dengan bumi. Ke-73 ilmuwan di 10 negara yang melacaknya memperkirakan bahwa besarnya hanya lima setengah kali bumi, dan letaknya lebih jauh dari bintang dibandingkan planet-planet lain, yaitu dua setengah kali jarak bumi dari matahari.

Salah satu penemu planet itu, David Bennett dari Universitas Notre Dame di Indiana mengatakan, itu berarti bahwa letaknya di luar zone yang dapat dihunin kehidupan, karena suhu permukannya 220 derajat di bawah nol Celcius. Namun, katanya, ini lebih menarik daripada planet-planet yang bersuhu tinggi di luar tata surya kita.

Pada dasarnya, tambah David Bennet, “Kami menyatakan telah membuka sebuah jendela baru, dan kami mendekati planet-planet yang mirip bumi, meskipun kami lebih memperhatikan planet-planet yang suhunya lebih rendah daripada bumi.

http://www.voanews.com/indonesian/images/New_planet_-_By_artist_Trent_Schindler_at_the_National_Science _Foundation._.jpg

Penemuan ini melibatkan sebuah teknik pencarian baru yang berbeda dengan yang digunakan untuk menemukan planet-planet lain. Cara lama tidak melihat langsung planet, tetapi memperkirakan kehadirannya dengan mengamati olengan bintang, yang diakibatkan oleh gravitasi planet yang mengorbit. Prosedur ini cenderung menemukan planet-planet yang terbesar, terpanas dan terdekat dengan bintang sehingga tidak dapat mendukung kehidupan.

Cara baru itu menggunakan fenomena alam yang disebut microlensing. Dengan teknik ini, cahaya dari bintang yang jauh diperbesar oleh gravitasi bintang di dekatnya, seperti cahaya lampu sorot yang melewati kaca pembesar. Kalau suatu planet mengorbit bintang yang ada di latar belakang, gravitasinya dapat meningkatkan kecerahan cahanya.

Pakar astronomi Prancis Jean Pierre Beaulieu dari Lembaga Astrofisika di Paris terkejut melihat besarnya peningkatan kecerahan cahaya ini: Tadinya kami duga bahwa bintang ini lebih pudar daripada yang kami amati. Jadi kami memutuskan untuk melakukan pengukuran lagi, dan pada pengukurna kedua, bintang ini lebih terang. Kami sangat bersemangat karena inilah yang sudah kami cari sejak lama.

Para periset mengatakan, kelebihan microlensing adalah teknik itu dapat mendeteksi planet-planet bermassa rendah. Tentu saja teknik ini dapat mengamati bintang-bintang besar seperti Jupiter secara lebih mudah, tetapi sebegitu jauh baru menemukan dua. David Bennett mengatakan, kalau bintang-bintang besar jumlahnya lebih banyak di alam semesta, microlensing tentunya akan menemukan lebih banyak lagi. David Bennett dan rekan-rekannya yang melaporkan penemuan ini dalam jurnal Nature mengatakan, microlensing kemungkinan besar akan menemukan planet-planet bermassa rendah lebih banyak, dalam bulan-bulan mendatang.

Michael Turner dari Yayasan Sains Nasional Amerika yang membantu pendanaan riset ini mengatakan, penemuan ini adalah terobosan penting dalam usaha menemukan jawaban atas pertanyaan “Apakah ada mahluk lain di alam semesta ini, selain di bumi?.

Dengan ditemukannya lebih dari 170 planet di luar tata surya selama 11 tahun terakhir ini, tambahnya, petualangan untuk mencari jawaban atas pertanyaan itu telah dimulai. (adaptasi: Djoko Santoso)
http://www.voanews.com/indonesian

Read More......

flash disk Detektor Hantu

Flash disk buatan SolidAlliance ini memiliki kemampuan di atas rata-rata sebuah media penyimpan data. Bukan dari sisi kapasitas yang membuatnya istimewa, melainkan fitur yang dimasukkan membuat flash disk ini bisa melacak hantu.
SolidAlliance menamakan flash disk mereka itu dengan nama

USB Ghost Radar. Sesuai namanya, flash disk ini bisa mendeteksi hantu. Sekilas memang terlihat rumit karena memiliki sensor dan lampu alarm, belum lagi algoritma rumit untuk mendeteksi kegiatan paranormal dengan cara menganalisa data sensor, biometric feedback, dan hal lainnya. Sensor paling paten adalah mendapatkan informasi mengenai aktivitas gelombang magnetik yang tidak biasa di suatu ruangan.

Saat digunakan, flash disk ini akan mengeluarkan bunyi ‘bip’ secara teratur, dan lampunya akan aktif tergantung dari situasi. Volume dan intensitas suara ‘bip’ menunjukkan seberapa dekat alat itu dengan posisi hantu. Lampunya juga akan membantu menentukan posisi hantu, gerakan, dan informasi apakah hantu tersebut berbahaya atau tidak.

Read More......

De Javu

Déjà vu Berasal dari bahasa Perancis yang artinya “pernah terlihat”, déjà vu adalah peristiwa dimana kita merasa pernah mengalami kejadian yang sama di masa silam :d Nyaris semua orang mengalaminya. Ada yang menganggap sebagai pengalaman di kehidupan sebelumnya. Para psikolog mencoba menjelaskannya secara naturalistik. Tapi kejadian ini tetaplah misteri.
Para ahli meditasi/yoga mengenal DE JAVU sebagai suatu pengalaman dimana kita merasa familiar dengan situasi yang kita alami anehnya lagi, kita juga seringkali tidak mampu untuk dapat benar-benar mengingat kapan dan bagaimana pengalaman sebelumnya itu terjadi secara rinci. Yang kita tahu hanyalah

adanya sensasi misterius yang membuat kita tidak merasa asing dengan peristiwa baru itu., dan sepertinya kita pernah mengalami hal tersebut. Pengalaman masa depan tersebut biasanya dimimpikan orang pada saat tidur, tapi karena kebanyakan kita lupa akan mimpi kita. Dan pada suatu waktu kita teringat kembali kepada moment yang pernah kita impikan, dan mengetahui persis apa yang akan terjadi seperti lokasi,posisi,suara,warna
Saya yakin semua orang pasti pernah mengalami hal ini..

Terdapat beberapa kemungkinan mengenai hal ini, kemungkinan pertama, kita memiliki otak yang sangat canggih sehingga dapat memproses ramalan beberapa waktu kedepan.Kemungkinan lain adalah ada suatu dimensi dimana semuanya sudah direncanakan dengan pasti, berisi semua yang kita alami, masa lalu, sekarang dan masa yang akan datang. Informasi tersebut masuk ke kepala kita berupa input audio visual.
Biasanya orang yang sering mengalami De Javu juga mengalami hal aneh lain, ini dikarenakan yang bersangkutan biasanya memiliki tubuh yang peka terhadap energi luar.Bila anda sering mengalami hal ini dan mengetahui akan tejadi kecelakaan terhadap diri sendiri, lebih baik ambil tindakan dan jangan diam saja.Jika kecelakan akan terjadi menimpa teman anda, jangan bilang kalau anda tahu bahwa ia akan celaka,karena ia tidak akan percaya, lebih baik ajak Ia atau paksa untuk melakukan aktivitas lain agar terhindar dari kecelakaan.
Deja Vu dan Asal-Usulnya
Keanehan fenomena deja vu ini kemudian melahirkan beberapa teori metafisis yang mencoba menjelaskan sebab musababnya. Salah satunya adalah teori yang mengatakan bahwa deja vu sebenarnya berasal dari kejadian serupa yang pernah dialami oleh jiwa kita dalam salah satu kehidupan reinkarnasi sebelumnya di masa lampau. Bagaimana penjelasan ilmu psikologi sendiri?
Terkait dengan Umur dan Penyakit Degeneratif
Pada awalnya, beberapa ilmuwan beranggapan bahwa deja vu terjadi ketika sensasi optik yang diterima oleh sebelah mata sampai ke otak (dan dipersepsikan) lebih dulu daripada sensasi yang sama yang diterima oleh sebelah mata yang lain, sehingga menimbulkan perasaan familiar pada sesuatu yang sebenarnya baru pertama kali dilihat. Teori yang dikenal dengan nama “optical pathway delay” ini dipatahkan ketika pada bulan Desember tahun lalu ditemukan bahwa orang butapun bisa mengalami deja vu melalui indra penciuman, pendengaran, dan perabaannya.
Baru-baru ini, sebuah eksperimen pada tikus mungkin dapat memberi pencerahan baru mengenai asal-usul deja vu yang sebenarnya. Susumu Tonegawa, seorang neuroscientist MIT, membiakkan sejumlah tikus yang tidak memiliki dentate gyrus, sebuah bagian kecil dari hippocampus, yang berfungsi normal. Bagian ini sebelumnya diketahui terkait dengan ingatan episodik, yaitu ingatan mengenai pengalaman pribadi kita. Ketika menjumpai sebuah situasi, dentate gyrus akan mencatat tanda-tanda visual, audio, bau, waktu, dan tanda-tanda lainnya dari panca indra untuk dicocokkan dengan ingatan episodik kita. Jika tidak ada yang cocok, situasi ini akan ‘didaftarkan’ sebagai pengalaman baru dan dicatat untuk pembandingan di masa depan.
Menurut Tonegawa, tikus normal mempunyai kemampuan yang sama seperti manusia dalam mencocokkan persamaan dan perbedaan antara beberapa situasi. Namun, seperti yang telah diduga, tikus-tikus yang dentate gyrus-nya tidak berfungsi normal kemudian mengalami kesulitan dalam membedakan dua situasi yang serupa tapi tak sama. Hal ini, tambahnya, dapat menjelaskan mengapa pengalaman akan deja vu meningkat seiring bertambahnya usia atau munculnya penyakit-penyakit degeneratif seperti Alzheimer: kehilangan atau rusaknya sel-sel pada dentate gyrus akibat kedua hal tersebut membuat kita sulit menentukan apakah sesuatu ‘baru’ atau ‘lama’.
Menciptakan ‘Deja Vu’ dalam Laboratorium
Salah satu hal yang menyulitkan para peneliti dalam mengungkap misteri deja vu adalah kemunculan alamiahnya yang spontan dan tidak dapat diperkirakan. Seorang peneliti tidak dapat begitu saja meminta partisipan untuk datang dan ‘menyuruh’ mereka mengalami deja vu dalam kondisi lab yang steril. Deja vu pada umumnya terjadi dalam kehidupan sehari-hari, di mana tidak mungkin bagi peneliti untuk terus-menerus menghubungkan partisipan dengan alat pemindai otak yang besar dan berat. Selain itu, jarangnya deja vu terjadi membuat mengikuti partisipan kemana-mana setiap saat bukanlah hal yang efisien dan efektif untuk dilakukan. Namun beberapa peneliti telah berhasil mensimulasikan keadaan yang mirip deja vu. Seperti yang dilaporkan LiveScience, Kenneth Peller dari Northwestern University menemukan cara yang sederhana untuk membuat seseorang memiliki ‘ingatan palsu’. Para partisipan diperlihatkan sebuah gambar, namun mereka diminta untuk membayangkan sebuah gambar yang lain sama sekali dalam benak mereka. Setelah dilakukan beberapa kali, para partisipan ini kemudian diminta untuk memilih apakah suatu gambar tertentu benar-benar mereka lihat atau hanya dibayangkan. Ternyata gambar-gambar yang hanya dibayangkan partisipan seringkali diklaim benar-benar mereka lihat. Karena itu, deja vu mungkin terjadi ketika secara kebetulan sebuah peristiwa yang dialami seseorang serupa atau mirip dengan gambaran yang pernah dibayangkan.

LiveScience juga melaporkan percobaan Akira O’Connor dan Chris Moulin dari University of Leeds dalam menciptakan sensasi deja vu melalui hipnosis. Para partisipan pertama-tama diminta untuk mengingat sederetan daftar kata-kata. Kemudian mereka dihipnotis agar mereka ‘melupakan’ kata-kata tersebut. Ketika para partisipan ini ditunjukkan daftar kata-kata yang sama, setengah dari mereka melaporkan adanya sensasi yang serupa seperti dejavu, sementara separuhnya lagi sangat yakin bahwa yang mereka alami adalah benar-benar deja vu. Menurut mereka hal ini terjadi karena area otak yang terkait dengan familiaritas diganggu kerjanya oleh hipnosis.
Sumber:
Some Imagination! How Memory Fails Us – LiveScience
Patients Suffer Deja Vu… Over and Over – LiveScience
Blind Man Has Deja Vu, Busting a Myth – LiveScience
Origin of Deja Vu Pinpointed – LiveScience



Read More......

Matematika Secret

1 x 8 + 1 = 9
12 x 8 + 2 = 98
123 x 8 + 3 = 987
1234 x 8 + 4 = 9876
12345 x 8 + 5 = 98765

123456 x 8 + 6 = 987654
1234567 x 8 + 7 = 9876543
12345678 x 8 + 8 = 98765432
123456789 x 8 + 9 = 987654321

1 x 9 + 2 = 11
12 x 9 + 3 = 111
123 x 9 + 4 = 1111
1234 x 9 + 5 = 11111
12345 x 9 + 6 = 111111
123456 x 9 + 7 = 1111111
1234567 x 9 + 8 = 11111111
12345678 x 9 + 9 = 111111111
123456789 x 9 +10 = 1111111111

9 x 9 + 7 = 88
98 x 9 + 6 = 888
987 x 9 + 5 = 8888
9876 x 9 + 4 = 88888
98765 x 9 + 3 = 888888
987654 x 9 + 2 = 8888888
9876543 x 9 + 1 = 88888888
98765432 x 9 + 0 = 888888888

1 x 1 = 1
11 x 11 = 121
111 x 111 = 12321
1111 x 1111 = 1234321
11111 x 11111 = 123454321
111111 x 111111 = 12345654321
1111111 x 1111111 = 1234567654321
11111111 x 11111111 = 123456787654321
111111111 x 111111111 = 12345678987654321

1 2 3 4 5 6 7 8 9 , kalo disisipi + atau - , menghasilkan bilangan 100

1+2+34-5+67-8+9=100
12+3-4+5+67+8+9=100
123-4-5-6-7+8-9=100
123+4-5+67-89=100
123+45-67+8-9=100
123-45-67+89=100
12-3-4+5-6+7+89=100
12+3+4+5-6-7+89=100
1+23-4+5+6+78-9=100
1+23-4+56+7+8+9=100
1+2+3-4+5+6+78+9=100

Read More......

Selasa, November 25

Bumi Terlahir Ungu

ada awal terbentuknya kehidupan kehidupan, kondisi di muka Bumi mungkin tak sehijau sekarang, tapi lebih banyak dihiasi warna ungu. Mikroorganisme purba yang telah menghuni saat itu diperkirakan tidak memanfaatkan klorofil, namun sebuah molekul yang memantulkan gelombang cahaya berwarna ungu.

Klorofil, yang merupakan pigmen utama tumbuhan yang dipakai selama proses fotosintesis saat ini, menyerap gelombang cahaya biru dan merah dari Matahari dan memantulkan gelombang cahaya hijau. Itulah mengapa daun-daunan

Pyang menjadi tempat terjadinya fotosintesis kelihatan berwarna hijau.

Meski telah lama dipelajari, fakta ini masih membuat para pakar biologi penasaran. Sebab, Matahari memancarkan sebagian besar energinya dalam bentuk cahaya hijau. "Mengapa klorofil mengesampingkan bagian yang paling banyak energinya?" kata Shil DasSarma, seorang ahli genetika mikroba di Universitas Maryland, AS.

Padahal karena gelombang cahaya hijau dari Matahari memancar yang paling kuat, mata manusia secara evolusi menjadi paling sensitif terhadap cahaya berwarna hijau. Inilah salah satu alasan mengapa citra bayangan yang dikembangkan pada teknologi teropong malam dibuat berwarna hijau. Lalu, mengapa fotosintesis tidak memanfaatkan sumber energi yang paling besar ini?

Kompetisi

DasSarma memprediksi, hal tersebut disebabkan klorofil muncul belakangan setelah retinal. Molekul retinal yang juga sensitif terhadap cahaya ini muncul sejak awal terbentuknya Bumi dan masih ditemukan pada halobakteri, jenis mikroorganisme yang juga melakukan fotosintesis. Membran tubuhnya yang mengandung retinal akan menyerap cahaya hijau dan memantulkan cahaya merah dan ungu sehingga tubuh bakteri tampak ungu kemerahan.

Mikroorganisme primitif yang memiliki retinal untuk menyerap energi Matahari mungkin mendominasi Bumi saat masa pembentukan awal kehidupan. Jika prediksi ini benar, bisa dibayangkan bahwa Bumi akan terlihat berwarna ungu dan tidak hijau kebiruan seperti saat ini.

"Klorofil terdesak untuk menggunakan cahaya merah dan biru karena cahaya hijau telah diserap organisme yang memiliki membran ungu ini," kata William Sparks, seorang astronom di Space Telescope Science institute (STScI) di Maryland, yang turut membantu Das Sarma mengembangkan hipotesis ini. Mereka berpendapat organisme yang mengandung klorofil kemudian berbagi lingkungan dengan retinal.

Namun, setelah sekian lama, jumlah organisme yang mengandung klorofil semakin mendominasi seiring kecenderungan kompetisi. Sebab, klorofil mungkin lebih efisien daripada retinal. "Klorofil boleh jadi tidak mengambil puncak spektrum cahaya, namun ia memanfaatkan cahaya yang diserapnya sebaik mungkin," ungkap DasSarma.

Ia mengakui bahwa pendapat-pendapatnya tersebut masih bersifat spekulasi, namun masih sesuai dengan pendapat ilmuwan lainnya mengenai retinal dan awal kehidupan di Bumi. Misalnya, struktur retinal jauh lebih sederhana daripada klorofil dan mudah terbentuk di lingkungan yang kadar oksigennya rendah. Proses pembentukan retinal mirip pembentukan asam lemak yang menurut para ilmuwan menjadi materi utama terbentuknya sel hidup.

Halobakteri juga bukan termasuk jenis bakteri murni sehingga dikelompokkan dalam kelompok archaea yang jalur keturunannya dapat ditarik ke mikroorganisme primitif yang mungkin hidup di masa sebelum ada oksigen di atmosfer Bumi. Bukti-bukti ini menguatkan pendapat bahwa retinal terbentuk sebelum klorofil.

Meski masih harus dibuktikan kebenarannya, hipotesis ini dapat dipertimbangkan untuk membantu pencarian tanda-tanda kehidupan di planet lain. Dalam bidang astrobiologi, para ahlinya telah tertarik mempelajari ’bingkai merah’ yang terbentuk di sebagian tumbuh-tumbuhan. Cahaya merah memang diserap tapi tidak semuanya karena masih ada pula yang dipantulkan. Para ilmuwan telah mengusulkan untuk mencari tanda-tanda kehidupan dengan melihat pantulan cahaya merah pada frekuensi tertentu.

"Saya kira saat orang melakukan penginderaan jauh, mereka fokus mencari bukti kehidupan dari tanda-tanda klorofil. Jika ditemukan hal tersebut memang sangat berarti, namun jika mencari ke planet lain yang tengah berada pada tahap awal evolusi dan Anda mencari klorofil, Anda mungkin tidak akan menemukannya karena berada di gelombang yang salah," ungkap DasSarma. Hipotesis yang disebut ’Bumi ungu’ ini dipresentasikan dalam peremuan tahunan Masayrakat Astronomi Amerika (AAS). Para penelitinya berencana mengirimkannya ke jurnal ilmiah tahun ini.



Sumber: LiveScience.com, kompas.com


Read More......

SOEharto anak siApa ? ? ? . . .

Pada suatu hari Tutut, anaknya Soeharto, lewat di jalan tol di Jakarta.

Penjaga Tol: "3000 rupiah".

Tutut yang emangnya ngak punya uang seribuan mengeluarkan uang 50 ribu rupiah langsung saja menyodorkan tuch uang.

Penjaga Tol: "Ini Bu, kembaliannya. "

Bu Tutut: "Sudah...simpan saja buat keluarga anda."

Penjaga tol merasa senang karena menerima 47 ribu rupiah dan langsung berterima kasih kepada Tutut.

Setelah beberapa jam Tommy dateng melewati jalan tol tersebut. Karena mereka tuch anaknya Soeharto, ngak punya uang receh, Tommy mengeluarkan uang 20 ribuan.

Penjaga Tol: "Ini Pak, kembaliannya 17 ribu."

Tommy: "Sudahlah, simpan aja buat sekolah anak anda."

Penjaga langsung memasukan kembalian itu ke kantongnya dan berterima kasih banyak ke Tommy.

Setelah beberapa jam Soeharto dengan mobilnya lewat jalan tol.

Soeharto mengeluarkan uang 5000 rupiah dan disodorkan ke penjaga tol. Soeharto menunggu uang kembaliannya itu dan setelah menunggu 5 menit, ditanyanya kepada penjaga tol

Soeharto: "Lho, mana uang kembalian saya ?"

Penjaga Tol: "Ah Bapak, masa uang 2000 rupiah aja dibalikin. Tadi bu Tutut dan pak Tommy lewat kembaliannya 47 ribu dan 17 ribu aja diberikan ke saya, masa Bapak yang 2000 aja minta kembalian?? "

Soeharto: "Tunggu dulu mas !! Anda tau sapa Tutut dan Tommy??"

Penjaga Tol dengan cekatan menjawab: "Yach tahu Pak! Pertanyaan gampang tho, jelas Tutut dan Tommy tuh Anaknya Presiden."

Soeharto: "Pinter kamu, tahu mereka anak Presiden. Nah sedangkan saya kan cuma Anak Petani !!
Sekarang, mana kembalian saya??"

Penjaga Tol : !@$@!$!%!^$@ ^

Sumber: il-grandebianconeri.blogspot.com


Read More......

SEDNA PLANET KESEPULUH TATASURYA??

Benda langit yang ditemukan beberapa waktu lalu barangkali merupakan planet ke-10 di tata surya kita. Para ilmuwan sedang mempertimbangkan untuk menyebut Sedna --nama yang diambil dari Dewi Samudra bangsa Inuit untuk benda langit tersebut-- sebagai planet baru.

Pengamatan menggunakan teleskop ruang angkasa Spitzer yang baru diluncurkan, menemukan bahwa Sedna memiliki lebar penampang sekitar 2.000 kilometer, bahkan barangkali bisa lebih besar dibanding Pluto yang penampangnya 2.250 kilometer.

Karena ukuran dan orbitnya, beberapa astronom memperdebatkan apakah Sedna bisa digolongkan sebagai planet atau bukan. Bila Sedna akhirnya dianggap planet, maka pengertian mengenai tata surya kita akan didefinisikan kembali.

Benda angkasa berselimut es

Sedna adalah benda angkasa terbesar yang ditemukan mengelilingi Matahari, sejak para astronom menemukan Pluto tahun 1930. Ukuran batu berlapis es ini masih belum diketahui dengan pasti, namun ada dugaan ia sedikit lebih besar dari Pluto.

Hal yang unik berkaitan dengannya adalah mengapa benda langit sebesar itu baru ditemukan saat ini. Sedna sendiri ditemukan dalam suatu survey yang dipimpin Dr Michael Brown dari California Institute of Technology, 14 November 2003lalu. Mulanya ia disebut 2003 VB12 sebelum mendapat nama Sedna.

Perhitungan awal menduga benda langit itu berada antara 7,5 milyar hingga 10 milyar kilometer dari Bumi, di wilayah antariksa yang dikenal sebagai Sabuk Kuiper atau Kuiper Belt (KB).

KB berisi ratusan objek dan para astronom yakin masih banyak benda angkasa yang belum diketahui di sana. Kebanyakan anggota KB adalah batu-batu berlapis es kecil, namun beberapa di antaranya --seperti Sedna-- bisa sebesar atau lebih besar dari Pluto.

Planet atau bukan?

Pentingnya Sedna sehingga diusulkan sebagai planet adalah karena ia benda langit yang memiliki orbit normal. Objek sejenis seperti Quaoar dan Varuna yang juga berada di KB, diketahui tidak memiliki orbit normal, dan sering berpindah.

Nah, untuk menentukan apakah orbit Sedna benar-benar stabil, maka para astronom di Observatorium Tenagra di Arizona telah diminta untuk meneliti jalur Sedna. Hasilnya nanti akan bisa dipakai untuk menentukan apakah benda langit itu bisa digolongkan sebagai planet.

Sebelumnya, Sedna dinyatakan sebagai Plutino, atau objek-objek angkasa yang orbitnya terkait dengan jalur Pluto saat mengelilingi Matahari. Sekelompok astronom bahkan masih menganggap Pluto sendiri bukan sebuah planet namun hanya salah satu benda langit besar di tepian tata surya.

Apakah Sedna kelak akan digolongkan sebagai planet? Apakah hal itu kemudian akan membuat definisi tata surya kita berubah? Baiklah kita menunggunya dengan sabar. (BBC/wsn)

http://www.gps.caltech.edu/%7Embrown/sedna/sedna-orbits.jpg

http://www.gps.caltech.edu/~mbrown/sedna/sedna-comp.jpg
http://www.gps.caltech.edu/~mbrown/sedna/sedna-skychart.jpg


Read More......

Jubah Gaib Harry Potter Nyaris Diwujudkan

Jubah untuk menghilang milik Harry Potter sebentar lagi akan tersedia lebih dari sekedar kisah fiksi saja :o . Ilmuwan mengklaim mereka sudah makin dekat saja dengan temuan material yang mampu membuat benda menjadi tak kasat mata.


Ilmuwan dari University of California, Berkeley,pimpinan Xiang Zhang, menjelaskan perkembangan temuan tersebut di jurnal Nature dan Science. Untuk pertamakalinya mereka mendemonstrasikan kemampuan menghilangkan objek tiga dimensi mengunakan material artifisial yang secara tak langsung dipancarkan ke objek. Sebelumnya mereka hanya mampu melakukannya pada objek dua dimensi saja.

Kemajuan ini nyaris mendekati temuan bagaimana membuat objek benda atau manusia tidak terlihat. Jika ini bisa diwujudkan, dunia militer akan sangat terbantu.

Metamaterial

Secara teori, orang bisa melihat suatu objek karena benda tersebut menyebarkan cahaya yang mengenainya, lalu memantulkannya ke mata. Material yang dikenal dengan nama metamaterial, mampu menangkis radar, cahaya atau gelombang lain di sekitar objek.

Metamaterial adalah campuran logam dan materi papan sirkuit yang terdiri dari keramik, teflon atau komposit serat. Benda-benda itu didesain untuk membelokkan cahaya yang kasat mata ke arah lain. Ilmuwan berusaha menggunakannya untuk membelokkan cahaya di sekitar objek sehingga objek itu tidak memantulkan cahaya atau bayangan. Ini berbeda dengan teknologi keamanan yang bukan membuat pesawat tak terlihat, melainkan hanya membuatnya sulit terdeteksi radar sehingga susah dilacak.


sumber : netsains.com

Read More......