Rabu, September 24

Pelapukan

Pelapukan atau weathering (weather) adalah proses pegerusakan atau penghancuran kulit bumi oleh tenaga eksogen yaitu penghancuran batuan dari bentuk gumpalan menjadi butiran yang lebih kecil bahkan menjadi hancur atau larut dalam air. Apabila kecepatan dari pelapukan batu- batuan itu tidak dapat mengikuti kecepatan runtuhnya lapisan batuan yang lapuk, maka batuan yang asli akan terkupas dan terbuka maka hal inilah yang disebut sebagai denudasi
Pelapukan di setiap daerah berbeda beda tergantung unsur unsur dari daerah tersebut. Misalnya di daerah tropis, yang dipengaruhi oleh faktor cuaca (suhu, curah hujan, kelembaban, atau angin ) dan air sangat dominan, tebal pelapukan dapat mencapai seratus meter, sedangkan daerah sub tropis pelapukannya hanya beberapa meter saja.
Menurut proses terjadinya pelapukan dapat digolongkan menjadi 3 jenis yaitu:
- pelapukan fisik atau mekanik
- pelapukan organis
- pelapukan kimiawi

Penjelasan ketiga jenis tersebut adalah:
Pelapukan fisik atau mekanik.
Pada proses ini batuan akan mengalami perubahan fisik baik bentuk maupun ukuranya tanpa mengalami perubahan kimiawi, pelapukan mekanis atau sering disebut pelapukan fisis bisa disebabkan oleh pemuaian, pembekuan air, perubahan suhu tiba-tiba, atau perbedaan suhu yang sangat besar antara siang dan malam. Proses pelapukannya sendiri berlangsung secara mekanik. Penyebab terjadinya pelapukan mekanik yaitu:
Adanya perbedaan temperatur atau suhu yang tinggi.
Peristiwa ini terutama terjadi di daerah yang beriklim kontinental atau beriklim Gurun di daerah gurun temperatur pada siang hari dapat mencapai 50 Celcius dan pada malam hari mencapai 2 derajat celcius. Pada siang hari bersuhu tinggi atau panas. Batuan menjadi mengembang, pada malam hari saat temperatur turun menjadi sangat rendah (dingin), batuan mengalami penengerutan. Apabila hal itu terjadi secara terus menerus dapat mengakibatkan batuan pecah atau retak-retak.
Pembekuan air di dalam celah batuan
Jika air membeku maka volumenya akan mengembang. Pengembangan ini menimbulkan tekanan, karena tekanan ini batu- batuan menjadi rusak atau pecah pecah. Pelapukan ini terjadi di daerah yang beriklim sedang dengan pembekuan hebat.
Berubahnya air garam menjadi kristal.
Jika air tanah mengandung garam, maka pada siang hari airnya menguapdan garam akan mengkristal. Kristal garam ini tajam sekali dan dapat merusak batuan pegunungan di sekitarnya, terutama batuan karang di daerah pantai.
Pengelupasan

Pelapukan organis (biologis)
Penyebabnya adalah proses organisme yaitu binatang tumbuhan dan manusia, binatang yang dapat melakukan pelapukan antara lain cacing tanah, serangga, semut, maupun bakteri. Dibatu-batu karang daerah pantai sering terdapat lubang-lubang yang dibuat oleh binatang. Pengaruh yang disebabkan oleh tumbuh tumbuhan ini dapat bersifat mekanik atau kimiawi.
Pengaruh sifat mekanik
yaitu berkembangnya akar tumbuh-tumbuhan di dalam tanah yang dapat merusak tanah disekitarnya.
Pengaruh zat kimiawi
yaitu berupa zat asam yang dikeluarkan oleh akar- akar serat makanan menghisap garam makanan. Zat asam ini merusak batuan sehingga garam-garaman mudah diserap oleh akar.
Manusia juga berperan dalam pelapukan melalui aktifitas penebangan pohon, pembangunan maupun penambangan.
Pelapukan kimiawi
Pada pelapukan ini batu batuan mengalami perubahan susunan kimiawi yang umumnya berupa pelarutan. misalnya asam karbonat yang berada dalam batu kapur akan bereaksi menghasilkan kalsium bikarbonat.
H2CO3 + CaCO3 -----> Ca(HCO3)2
Pelapukan kimiawi tampak jelas terjadi pada pegunungan kapur (Karst). Pelapukan ini berlangsung dengan batuan air dan suhu yang tinggi. Air yang banyak mengandung CO2 (Zat asam arang) dapat dengan mudah melarutkan batu kapur (CACO2). Peristiwa ini merupakan pelarutan dan dapat menimbulkan gejala karst yang menimbulkan celah-celah yang arahnya tidak beraturan pada permukaan batuan kapur.
Di Indonesia pelapukan yang banyak terjadi adalah pelapukan kimiawi. Hal ini karena di Indonesia banyak turun hujan. Air hujan inilah yang memudahkan terjadinya pelapukan kimiawi. Gejala atau bentuk - bentuk alam yang terjadi di daerah karst (pegunungan kapur )diantaranya:
Dolina
Dolina adalah lubang lubang yang berbanuk corong. Dolina dapat terjadi karena erosi (pelarutan) atau karena runtuhan. Dolina terdapat hampir di semua bagian pegunungan kapur di Jawa bagian selatan, yaitu di pegunungan seribu. Dolina ini dibagi menjadi 2 macam, yaitu dolina korosi dan dolina terban. Dolina korosi terjadi karena proses pelarutan batuan yang disebabkan oleh air. Di dasar dolin diendapkan tanah berwarna merah (terra rossa). Sedangkan dolina terban terjadi karena runtuhnya atap gua kapur.
Pipa karst
Bentuknya seperti pipa. Gejala ini terjadi karena larutnya batuan kapur oleh air. Karena terjadi proses pelarutan batuan, maka disebut pipa karst korosi. Namun jika terjadi karena tanah terban, pipa karst itu disebut pipa karst terban atau disebut juga yama-type.
Gua dan sungai di dalam Tanah
Di dalam tanah kapur mula-mula terdapat celah atau retakan. Retakan akan semakin besar dan membentuk gua-gua atau lubang-lubang, karena pengaruh larutan.Jika lubang-lubang itu berhubungan, akan terbentuklah sungai-sungai di dalam tanah.
Gua Kapur
Stalaktit
adalah kerucut-kerucut kapur yang bergantungan pada langit-langit gua. Terbentuk tetesan air kapur dari atas gua. Bentuknya biasanya panjang, runcing dan tengahnya mempunyai lubang rambut.
Stalakmit
adalah kerucut-kerucut kapur yang berdiri pada dasar gua.
Bentuknya tidak berlubang, berlapis-lapis, dan agak tumpul
Contoh stalaktit dan stalakmit di Gua tabuhan dan gua Gong di Pacitan, jawa Timur serta Gua jatijajar di Kebumen, Jawa Tengah. Jika stalaktit dan stalakmit bisa bersambung, maka akan menjadi tiang kapur (pillar).
Karren
Di daerah kapur biasanya terdapat celah-celah atau alur-alur sebagai akibat pelarutan oleh air hujan. Gejala ini terdapat di daerah kapur yang tanahnya dangkal. Pada perpotongan celah-celah ini biasanya terdapat lubang kecil yang disebut karren


Tidak ada komentar: